Pekerja IT cenderung stress, mudah emosi, cepat marah, tersinggung, dll.

Menurut 33 news ABC survey, para ahli IT ternyata lebih banyak menderita stress daripada profesi lainnya. Secara mengejutkan, 97% dari responden orang IT mengatakan kalau mereka merasa stress akibat pekerjaan sehari-hari mereka. Hasil poling menyingkap kalau para professional IT mengatakan kalau mereka sulit menyelesaikan pekerjaan apabila terus-menerus diawasi oleh manajer.

Salah seorang responden IT mengatakan kalau ia menghabiskan waktunya kebanyakan untuk menerima telepon dari orang tidak mengerti dasar komputer sama sekali atau printer. Ia menambahkan kalau waktu yang dihabiskan untuk mengajarkan orang menemukan tombol on/off sangatlah luar biasa banyak. Setelah ia menemukan masalah teknikal untuk diselesaikan, ia memilki seorang manajer yang terus menanyakan kenapa ia terus mempunyai daftar keluhan sebanyak itu.

Orang yang bekerja pada profesi medical mempunyai tingkat stress nomor dua, dengan 96,8% responden mengatakan,”Merawat orang lain sangatlah mulia sekaligus menimbulkan trauma pada saat yang sama.” Menurut poling, para insinyur, sales and marketer professional, dan guru juga cukup menimbulkan stress.

Hasil poling adalah sebagai berikut:
10 profesi paling menyebabkan stress:
1. IT
2. Medikal atau profesi perawat
3. Insinyur
4. Sales dan Marketing
5. Pendidikan
6. Finance
7. Human Resource (SDM)
8. Bagian Operasional
9. Bagian Produksi
10. Juru Tulis

10 stres akibat pekerjaan:
1. Beban kerja
2. Merasa kurang dihargai
3. Batas Waktu
4. Tipe pekerjaan yang harus dilakukan
5. Harus mengambil alih pekerjaan orang lain
6. Kurangnya kepuasan kerja
7. Kurangnya control pada saat hari kerja
8. Harus bekerja dalam waktu yang lama
9. Frustasi dengan lingkungan kerja
10. Target

10 gangguan dari rekan kerja:
1. Melihat yang lain tidak melakukan tugasnya dengan baik
2. Manajer mengubah rencana atau pemikirannya
3. Kurangnya dukungan dari manajer
4. Tekanan dari manajer
5. Merasa ditipu / didayagunakan oleh atasan
6. Interupsi dari rekan kerja
7. Interupsi oleh manajer
8. Gertakan oleh manajer
9. Kurangnya dukungan dari rekan kerja
10. Gertakan dari rekan kerja

Memang bukan sesuatu yang baru kalau stres dan masalah ditimbulkan oleh manajer. Untuk para karyawan, teruslah bermimpi tentang dunia yang bebas dari manajer sampai akhir hidup anda atau berusahalah untuk menjadi seorang manajer/bos dan menghancurkan hidup orang lain.

dikutip dari detikhot.com

Pekerja IT yang mapan dalam pekerjaan dan punya gaji tinggi ternyata tak menjamin kelanggengan hubungan pernikahan. Menurut survey terbaru tingkat perceraian pada pekerja di sektor ini makin meningkat.

Selain menggiurkan dengan gaji besar, bidang pekerjaan yang sedang naik daun ini ternyata juga punya risiko sendiri. Menurut T.K.R. Sudha, salah satu pengacara di pengadilan tinggi Madras, India, 40 persen dari kasus perceraian yang ditanganinya merupakan pasangan pekerja IT professional dan pasangan yang bekerja di bidang BPO (Bussines Process Outsourcing). Demikian indiatimes, Rabu (1/8/20007).

Di Kota Chennai, India setahun terakhir ini tercatat ada 3000 kasus perceraian yang didaftarkan di pengadilan tinggi. Pengadilan Keluarga yang biasanya sepi, tiba-tiba menjadi sibuk karena banyaknya kasus perceraian yang didaftarkan, sampai-sampai para pengacara merasa kesulitan menangani seluruh pekerjaan mereka. Kota Chennai dan daerah sekitarnya merupakan tempat tinggal (kurang lebih) dua ratus ribu pekerja IT dan BPO.

Dr. S Nambi, mantan President of Indian Psychiatrists Association, merasa profesi ini (programmer perangkat lunak) harus membayar mahal atas tawaran dan gaya hidup yang ditawarkan oleh pekerjaannya itu. Karena pekerjaan IT ini memeras otak dan merupakan pekerjaan yang sarat kompetisi, emosi tinggi sering melanda mereka, dan hal tersebut membawa dampak pada kehidupan keluarganya.

Karena permasalahan mental ini, banyak yang mengalami masalah dalam hubungan seksual yang berakibat pada keretakan rumah tangga, ungkapnya. Sekitar umur 28, mereka menjadi hyper sensitive. Pada usia 35 mereka akan merasa lelah (secara mental) dan capek, kata Nambi, yang kliniknya dipenuhi oleh sejumlah pasangan untuk konseling

Share your thoughts